Aku baru saja berkenalan dengan dia, tak banyak waktu terbuang untu bercengkrama sebelum akhirnya kita bertemu. Entah apa yang dipikirkan olehnya mau bertemu manusia seperti aku. Mungkin sekarang ia sedang menyesali keputusannya untuk bertemu seorang penulis gila dan penyiar amatiran seperti aku. Dengan kemeja lengan panjang dan celana jeans hitam, aku sungguh percaya diri menghampirinya.
Tatapan matanya seakan mewawancarai tubuhku. Demikian juga denganku, tapi lebih kearah terkesima. Seorang dara hitam manis dengan rambut berponi samping terikat, terlihat sangat anggun dan menarik. Ia duduk seorang diri dengan tangannya yang memegang sebatang rokok. Gaun merah yang dipakainya terlihat sangat cocok di tubuhnya yang lebih tinggi dariku. Dalam hati aku berbisik, “Cantik nian wanita ini”.
Akhirnya aku mengajaknya untuk menyaksikan JakJazz hari kedua bersamaku. Kebetulan saat itu aku menjadi seorang wartawan untuk radio online Voice of Jakarta. Entah angin apa, ia mengangguk saat ku ajak untuk ikut serta. Betapa bahagianya hati ini, seorang wanita cantik sepertinya mau berjalan berdampingan denganku. Tapi aku tak banyak berharap, tak mungkinlah seorang sepertiku bisa memenangkan hatinya.
Pada acara JakJazz tersebut, aku dan Dina banyak bertukar cerita. Ternyata kami memiliki beberapa kesamaan, mulai dari kesibukan kami mencari nasi sampai hobi kami yaitu menghayal. Namun tetap aku tak menaruh harapan besar untuk bisa memenangkan hatinya. Setelah menyantap kebab super enak yang dijual di sana, Dina meminta untuk diantar pulang.
Setelah mengantarnya pulang, aku langsung melanjutkan perjalanan kerumahku. Sesampainya di Istana yang bukan istana, aku menyempatkan diri untuk mengirimkan sms kepadanya. Tapi apa lacur, smsku tak dibalasnya. Mungkin ia sudah tertidur lelap dibuai pangeran mimpi. Atau mungkin juga dia menyesal bertemu denganku. Hahaha…apapun itu, aku sangat menikmati menghabiskan malam bersamanya. Sungguh wanita yang istimewa. Ada saat dimana aku malam ini merasa sangat kesal dan lelah, tetapi ia dengan sabar berusaha untuk menenangkanku dan menghiburku.
Namanya Dina, gadis keturunan Arab dan Jawa.
Entah kapan kita akan bertemu lagi.
Mungkin nanti atau tidak sama sekali.
Tapi malam indah ini, akan menjadi memori yang membuai mimpi.
Selamat tidur Dina, mimpilah tentang surga.
PS: Untuk Wanita yang hari ini menemaniku tanpa lelah.
Jakarta, 29 November 2008
Hm…penuturan tulisan ini bener2 deskriptif, membawa imajinasi gua ke keadaan yang digambarkan di sini. This is a good one!!
I like reading it…..
Rapi, Sa, tulisannya. Keyboardnya merk apa nih?
wHoakakakakkakakakaaaa gw kayak kenal nih perempuan wakakakkakakakaaa,,,
gaya bertutur lo mantab sa,,,
gw tunggu gratisan novel cinta lo deh wakakakakkakaaaa,,,
Hahaha….Makasih semua!!
PS: Tau depan keluar Bunga….novel percintaan gue…hehehe
Dina? Ntah kenapa kalo baca/denger nama Dina, telingaku berdiri atau mataku mendelik.
Mungkin karena tokoh kesayanganku di novelku sendiri namanya Dina?
Nice, kayaknya seputar event Jazz itu, ya? Lucky banget ketemu cewek cantik terus.