
Saat senja, banyak yang bisa terjadi saat senja tiba. Para pekerja pulang kantor atau muda-mudi keluar untuk penuhi mimpi. Tetapi bagiku saat senja adalah saat dimana kesepian dan kesendirian datang bertamu. Selalu kubuka pintu untuk mereka. Segelas kopi hangat dan sebungkus rokok menjadi teman perbincangan kami. Sayang, mereka lebih banyak diam daripada bercengkrama. Aku ingin menyuruh mereka pergi dari hadapanku, kucoba mengacuhkan mereka. Tetapi mereka selalu ada setiap aku menoleh, setiap aku memencet tombol-tombol di Laptopku. Bahkan setiap aku sedang berbicara dengan orang lain.
Saat senja, merupakan waktu yang terasa begitu lama bagiku. Bagiku malam adalah senja, pagi adalah senja, bahkan siangpun senja. Keramaian dan pertemanan yang selalu berada di sekelilingku tak mampu membantuku memerangi “teman-temanku” yang bertamu saat senja.
Dimana kucari penawar dahaga jiwa?
Terkadang inginku bunuh senja dengan jutaan mimpi, tapi tetap aku yang terbodohi. Jika saja, ada adipati yang menyalurkan ilmunya padaku. Atau mungkin seorang bidadari yang datang tuk penuhi mimpi. Mungkin saja, senja tak akan senista ini. Mungkin saja senja akan bawa bahagia, tetapi itu semua masih mungkin.

Kucoba menggapai bintang, tuk terangi ruang kosong. Tetapi bintang tak sudi menemani pujangga kesepian sepertiku. Jangankan bintang, anginpun malas berhembus tuk hapus keringat pekat. Lalu dimana harus kucari penawar senja yang perlahan menjadi neraka?
Entah, apakah kau merasakan apa yang kurasa dalam tulisanku ini. Entah apakah kau memahami ini semua, atau bahkan sedikit saja mengerti apa yang kurasakan…
Saat senja, aku ingin menjadi bahagia.
Inginku raih bintang dan terangkan ruang.
Tak perlu banyak, hanya satu yang selalu bersatu denganku.
Tapi bagaiamana caranya agar bintang paham akan rasa terpendam.
Lelah sudah menanti datangnya sapaan, dari bibir bintang yang terang.
Sudahlah, mungkin memang senja ini, senja yang hempaskan mimpi.
Bukan mimpimu, tapi mimpiku.
