Sesak rasanya dada ini, melihat mereka tersenyum dengan bahagia
Apakah mereka tidak tahu bahwa, di kolong jembatan itu banyak yang berduka
Sudah matikah nurani, atau menghilang dan bersembunyi
Aku disni, menepis benci. Benci pada jurang hakiki
Sampai kapan, bahagia bersanding duka. Sampai kapan si miskin menderita.
Gaung-gaung janji, manis penuhi mimpi.
Rona-rona bahagia selalu mereka bawa. Tapi tahukah mereka, rakyat sengsara?
Mungkin tahu tapi tak peduli, atau bahkan mereka tidak mengerti
Aku di sini, sendiri menepis benci.
kamu gak sendiri, tiap individu seperti itu.. itulah uniknya benci…pasti dan tak pasti. justru benci itu karena kita cinta .. huauaua