Menikmati dunia saat ini sangat sulit, bahkan dari lingkup sastra sekalipun. Bahkan terkadang kita merasa jatuh ke dalam lembah hitam yang menyita tenaga dan waktu kita. Susah sekali rasanya tertawa, bahkan tersenyum. Kondisi di mana hidup terasa hampa dan tidak berdaya.

Ingin rasanya aku menulis puisi cinta lagi, atau sekedar roman dalam cermin. Namun bagaimana merasakan cinta atau menghayalkan cinta, jika tersenyum saja aku sulit. Menggapai makna dari sebuah karya sastra yang indah seharusnya bisa membuat bibir kita sumringah. Membaca puisi cinta dari Shakespere, atau novel dari Jane Austen seharusnya bisa membuat kita tersenyum bahagaia. Bagaimana caranya untuk itu? Jika kepenatan dan tuntutan untuk tidak tersenyum selalu saja muncul bagai bayangan yang tak kunjung hilang.

Rona bahagia, pasti indah jika terpampang di wajah. Raungan ruang jiwa seakan terkungkung bak api dalam sekam. Tertekan, terkalahkan, terpatahkan, dan ter-ter lainnya. Mungkin ada beberapa cara untuk bisa tersenyum. Seperti membaca buku sastra yang indah, membaca surat cinta yang gumirah, atau mungkin sekedar membaca satir-satir miring di koran-koran ibukota. Tetapi bagiku, yang bisa membuatku tersenyum bukan itu. Senyum bagiku adalah sinaran cinta yang menyelimuti hati dengan mimpi, menghapus dahaga dengan bahagia.

Cinta bukan hanya cinta yang kalian pikir. Cinta itu banyak ragamnya, jika kalian pernah menonton film “Love Actually” kalian pasti tahu. Cinta bisa berbentuk perhatian seorang sahabat, peluk hangat orang tua, ciuman mesra kekasih hati, atau bahkan cinta pada hobi. Lalu pernahkah kita diam sebentar dan merenungkan itu semua. Pernahkah kita sedikit saja mensyukuri anugrah itu? Mungkin jarang, mungkin itulah yang membuat kita susah sekali untuk tersenyum.

Jadi sekarang mulailah untuk bersyukur. Sulit memang di tengah terpaan tuntutan jaman yang menggila, di tengah PHK yang merajalela, di tengah tangisan anak istri yang kelaparan, atau di tengah kesendirian tanpa kekasih. Tetapi mulailah diam sejenak dan merenung. Hirup kopi itu dengan perlahan, rengkuh nikmat dalam hangat. Pahit-manis kehidupan, seperti dalam kopi itu.

Setelah kita tenang, coba cari sisi anak kecil dalam diri kita. Putar kembali roda waktu ke masa di mana semua indah, mudah, dan menyenangkan. Temukan kembali diri kecil kita yang senang bermain dan tersenyum tanpa beban. Pada saat itulah kita bisa bahagia, pada saat itulah tersenyum itu mudah.

Jadi, temukan diri kecil kamu, aku, dan kita. Mulailah bersyukur, dan bersenang-senang dalam kehidupan. Lalu TERSENYUMLAH!
Hehehe itu fotoku, yang lain itu siapa yas? Jadi tersenyum nich… (Lagian aku gak ngopi wew!), itu minum teh sodara-sodara sekalian.
wah.. aku gak difoto…
)
aku tersenyum membaca ini …
membayangkan kamu di sana yang juga senyum-senyum membaca ini (halah apa coba, nggak nyambung)
mulailah hari dengan senyuman hehehehe ….