Sesak rasanya dada ini, melihat mereka tersenyum dengan bahagia
Apakah mereka tidak tahu bahwa, di kolong jembatan itu banyak yang berduka
Sudah matikah nurani, atau menghilang dan bersembunyi
Aku disni, menepis benci. Benci pada jurang hakiki
Sampai kapan, bahagia bersanding duka. Sampai kapan si miskin menderita.
Gaung-gaung janji, manis penuhi mimpi.
Rona-rona bahagia selalu mereka bawa. Tapi tahukah mereka, rakyat sengsara?
Mungkin [...]
Archive for the ‘Puisi’ Category
Menepis benci
Posted in Puisi, tagged Puisi, sosial on December 5, 2008 | 1 Comment »
Stream
Posted in Puisi, tagged Death, English poem, Life on December 5, 2008 | 1 Comment »
Such a river at a glance, wishing my dream of avalanche
Crave for life in melodies of darken skies
No morose in life, smile like you’re in heaven
For avalanche wont hurt you nor your dreams for true
The fragrance keep thickening, erase my sense of belonging
My dreams taken by the stream, roll down in scream
Trying to breath, tried [...]
Nyanyian Enthirea
Posted in Puisi, tagged Enthirea, Puisi on December 5, 2008 | 2 Comments »
Tidak ada tempat berlindung di darat atau di langit
Tidak ada rasa aman di dalam bayangan dan lindungan tembok besar
Pengorbanan masa lalu, menghantuiku
Merangkai cerita menjadi legenda
Aku bicara padamu sekarang
Mataku berlinang tangis
Anganku masih terbayang masa lalu
Apakah kau mengetahui pembantaian itu
Sorakan semangat kemenangan
Jerit kesakitan yang bergema di angkasa
Apakah kau tidak mendengar datangnya kegelapan?
Mereka terus bertahan
Para [...]
Sendiri
Posted in Puisi, tagged Filsafat, Puisi on December 1, 2008 | 1 Comment »
Hinakah diri ini, sampai tak boleh bermimpi.
Melambai daun kelapa, terbuai angin surga
Ketenaran yang ada, tak jua buat bahagia
Seakan semua sirna, dalam sekejap mata
Ingin rasanya berteriak memaki, lepaskan aura benci
Namun pada siapa kumurka? Bukan pada Rahwana dan Rama, mungkin pada Shinta.
Tak jua mereka mengerti jati diri, sudah melepas lalu pergi
Ah, materi yang kumiliki. Hampa tak seperti [...]
Ampas Kopi
Posted in Puisi, tagged Hidup on December 1, 2008 | Leave a Comment »
Lelah menanti mimpi, coba jalani hari
Seperti kopi, hangat nikmat tapi penuh ampas pekat
Sekelebat bayang hitam, tak lelah mengamati diri
Peluh dan keluh bersatu padu menghias masa lalu
Mungkin memang benar kata mereka, kalau surga itu jauh di sana
Atau malah lebih dekat dari yang terasa
Walau benci dan letih, ampas kopi pekat ini masih saja kunikmati
Sampai kapan? Sampai mati…